"Roda kehidupanku telah berhenti. Temanku hanyalah sedih sunyi. Aku bermadah untuk mencumbu sepi. Akankah nyanyi usir perih bergulir pergi?"Puisi pendek itu ditulis oleh (almarhum) sahabat sekaligus guru saya bernama DJOKO WITARKO yang akrab dipanggil banyak temannya sebagai DW.
Ditulis di saat ginjalnya hanya tinggal berfungsi sekitar 5%, sehingga seminggu 2 kali dia harus melakukan terapi cuci darah, suatu kondisi yang seringkali membuat penderita gagal ginjal merasa hidupnya tak lagi punya arti.
Walau puisinya menuangkan jeritan yang seolah hidupnya tiada arti lagi, namun saya menemukan pengalaman-pengalaman yang sebaliknya dalam perjalanan hidupnya. Tahun 2002, kami berdua memfasilitasi pelatihan untuk mitra-mitra program ACCESS - AusAID di Bali, meskipun kedua matanya tak berfungsi dengan baik. Tahun 2006 dan 2007 saya diajaknya memfasilitasi beberapa pelatihan bersama Dutchbank dan BINA SWADAYA untuk LSM-LSM di NAD dan juga bersama Depnakertrans untuk beberapa komunitas transmigran. Dengan mengatur jadwal, menyesuaikan jadwal cuci darah yang mesti dilakukannya, dia terus berkomitmen untuk pemberdayaan masyarakat yang menjadi lahan pengabdian hidupnya. Ia menegaskan, bahwa dengan keterbatasannya, seorang penyandang gagal ginjal tetap bisa berkarya untuk sesama. Dan, ia pun mengkampanyekan hal itu dengan mengunjungi mereka yang menyandang gagal ginjal. Saya pernah diajaknya mengunjungi seorang penyandang gagal ginjal di Medan. Dan saya juga pernah mendengar ceritanya ketika ia membatalkan kehadirannya dalam acara ulang tahun ke 70 salah satu tokoh pemberdayaan masyarakat yakni pak BAMBANG ISMAWAN, juga karena ada seorang penderita gagal ginjal yang ingin ia berkunjung ke rumahnya. Pengabdian kepada sesama tanpa henti, tanpa terhalang raga yang ringkih.
Bukan itu saja, catatan yang diberikannya kepada saya. Catatan lain yang teramat berharga darinya yang selalu saya coba tanamkan dalam diri saya adalah: Hemat dan cermat berbicara. Berbicaralah yang benar-benar bermanfaat bagi kehidupan bersama, dan jangan melukai sesama. Catatan yang tak terlupakan pula adalah: Hargailah siapa pun yang kau temui, karena dari setiap perjumpaan kita bisa belajar, memperoleh pencerahan dan bekal hidup untuk kehidupan yang lebih baik ke depan.
Mas DW telah pergi, tapi nilai-nilai dirinya tetap tinggal di hati, semoga bisa kuikuti sembari kulengkapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar